Naymah Nasution

Minggu, 04 Februari 2018

Sinyal & Listrik ZONK 😥😌

(Masih bercerita tentang pengalaman hidup di pulau kampung wejim).

Di zaman yang serba canggih ini, serba praktis, pernah gak sih kepikiran gitu dimana kita hidup tanpa ada sinyal internet sedikit pun? Atau sinyal telpon. Gak tau kenapa ya, saya sih ngerasa kayaknya gak mungkin banget gitu ada tempat yang gak ada sinyal sedikitpun. Apalagi di zaman sekarang yang ketika kita butuh atau kepengen sesuatu tinggal "klik tombol".

But, dugaan saya salah. Ternyata masih banyak sisi-sisi daerah di Indonesia ini yang masih jauh dari kata layak sih menurut saya. Bayangkan saja, sinyal dan listrik ngak ada? Hidup seperti apa coba begitu? Katanya MERDEKA sudah 72 tahun. Nah, selama ini apa daerah-daerah yang tertinggal memang tidak ter-deteksi atau ter-akses atau bahkan tidak di jamah lantaran tertinggal? Jadi bagaimana nasib masyarakat di dalamnya? Akses informasi kurang, akses transportasi kurang, bahkan pembangunan daerah dan fasilitas pendidikan juga kurang. Ntah ini salahnya dimana, yang jelas saya gak akan ngebahas kesitu.

Bukannya tidak peduli, tapi rasanya bukan kewenangan saya untuk ngebahas sampai kesitu dan memang malas aja ngebahas tentang politik 😂😂
Yang pada akhirnya berimbas ke tidak layakan kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya termasuk saya yang sedang tinggal di daerah tersebut.
Sudah...
Sudah...
Sudah...
Saya mau cerita pengalaman kami yang menghabiskan waktu tanpa ada sinyal dan listrik. Kita tau betul betapa pentingnya "sinyal & listrik" untuk kehidupan. Mungkin untuk sinyal, oke lah ngak ada samasekali. Masih bisa dimaklumin. Tapi gak ada listrik itu wow banget tau gak. Beberapa aktifitas terhambat karenanya.
Jadi masyarakat disini menggunakan genset untuk penerangan. Dan itu pun digunakan di malam hari oleh orang-orang tertentu/kalangan yang punya duit. Kalo gak punya duit ya gak ada penerangan. Dan rata-rata disini masyarakatnya gak ada penerangan.
Itu artinya ekonomi masyarakat disini tergolong rendah.
Belum lagi harga disini tergolong mahal. Kenapa bisa mahal? Bayangkan aja, untuk mengambil barang harus ke kota dulu. Jarak ke kota jauh dan membutuhkan bensin banyak. Alhasil barang yang dijual disini akan lebih mahal harganya ketimbang dibeli di kota.

Awal menginjakkan kaki di tempat ini, terbesit dibenak saya "kenapa masyarakat yang disini mau bertahan di tempat yang sulit begini? Hidup di pulau yang tergolong kecil banget dan terpencil". Seiring berjalannya waktu, pertanyaan yang dibenak saya itu saya jawab sendiri 😁
Siapa lagi yang menempati daerah-daerah pulau di Indonesia ini kalau tidak warga kita sendiri. Harusnya kita bersyukur, masih ada masyarakat kita sendiri yang bertahan dan mencintai daerah tempat tinggalnya meskipun itu jauh dari kata "kelayakan".
Yang mana di zaman sekarang ini banyaknya masyarakat yang berbondong-bondong pindah ke kota yang lahan di kota saja sudah sempit malah tergolong padat penduduk. Bukankah dengan adanya masyarakat yang tinggal di pulau juga merupakan salah satu warga yang menjaga pulau Indonesia itu sendiri?

Semakin kesini saya semakin sadar, sejauh apapun langkah kita berjalan, rumah adalah tempat kembali yang menenangkan dan dirindukan. Begitu pula dengan mereka ini, sudah nyaman dengan kampung kelahiran mereka sendiri walaupun tergolong daerah yang sulit.

Setiap hari rasanya begitu lama waktu berputar. Sehari rasa sebulan. Sebulan rasa setahun. Dan anehnya setiap hari rasanya yang dikerjakan hanya itu-itu saja. Rasanya gak produktif. Bangun, sholat, masak, mandi, kerja, makan, tidur. Begitu-gitu terus setiap hari. Palingan untuk menghilangkan suntuk hanya bisa dengerin musik, lihat galeri foto di hp, main game offline, tidur-tiduran(leyeh-leyeh).

Rasa kesepian itu setiap harinya datang bahkan memuncak. Mau kangen keluarga, jauh! Mau pulang ke kampung? Jauh dan menghabiskan biaya banyak. Belum lagi jadwal dikasi liburnya pasti gak puas sesampainya dikampung dan mikirin mau balik ke Papua lagi rasanya berat! Gak kuat! Mending gak usah pulang! (Kata dilan 😁😂).

Mau kangen pacar? Pacar dari hongkong! Jomblo fii sabilillah ini mahh 😂😂 (padahal masih belum move on).
Ya begitulah rasanya. Mau jalan-jalan keluar, yang dilihat itu-itu saja. Depan, belakang, samping kiri kanan yang ada cuma laut dan ombak. Buat saya sih, alhamdulillah laut itu bonus aja. Saya suka laut, suara ombaknya dan anginnya. Pas duduk-duduk di dermaga sambil menatap laut itu rasanya tenang. Dan biasanya saya sering juga jalan sendirian ke pantai arah ke timur sambil bawa buku dan menulis curhatan apa saja yang saya rasakan saat itu. Lumayan buat hati tenang ❤

Bayangkan saja, untuk 2 tahun ke depannya saya bakal menghabiskan waktu begitu-gitu saja 😥.
Sebenarnya ada satu titik tempat yang bisa digunakan untuk mencari sinyal. Di kampung sebelah namanya Satukurano. Kalau mau kesana hanya bisa jalan kaki. Ya karena disini memang gak ada kenderaan. Jadi untuk pergi ke tempat satu dan yang lainnya ditempuh dengan berjalan kaki. Itu membutuhkan sekitar 30 menit untuk sampai ke kampung tersebut dengan melewati jembatan yang hampir/bakal ROBOH.

Serius, jembatannya horor banget. Salah langkah sedikit ya bisa jatuh ke air rawa. Dan itu jembatan panjang banget tau gak! Foto jembatannya bisa dilihat di instagram saya dan scroll deh tu sampe ke bawah. Uda lama saya posting soalnya.

Memang ya, untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan itu harus melalui banyak rintangan dulu. Ya, seperti mendapatkan sinyal ini. Belum lagi sesampainya di tempat sinyal, kita mesti naik pohon ketapang dulu karena sinyalnya ada di atas pohon ketapang. Dan itu hanya sinyal telpon doaaaaang! Dan perjuangan dapat sinyalnya juga kita mesti menyodorkan hp ke atas dengan posisi headset sudah di pasang dan mulailah goyang2kan tu hp biar nemu sinyal. Nah, pas uda nemu nih, pertahankan posisi tangan dan mulailah menelpon. Geser tangan sedikit, sinyalnya hilang 😂
Iya kalo yang ditelpon langsung angkat, kalo ngak, yaa wassalam. Sudah capek, belum lagi sinyalnya kadang muncul kadang hilang. Hahahaha. Lucu lah pokoknya. Video lagi nyari sinyal juga saya posting di instagram, di scroll aja ke bawah ya 😘 udah lama di posting juga.

Saya juga gak nyangka bakalan merasakan hidup seperti itu. Tapi Alhamdulillah seperti pelajaran hidup aja sih, setidaknya saya bisa belajar banyak dari sini. Saya ngerasa hidup di zaman purbakala dan sekarang saya lagi ngejalaninnya. Beneran ini nyata! Saya lagi gak mimpi 😂😂
Gak nyangka aja. Dan terlebih lagi semakin bersyukur atas hidup yang selama saya lahir hingga sekarang yang di fasilitasi baik oleh kedua orangtua saya. Jadi merasa bersalah dan dosa banget ketika kita pernah mengeluh. Mami, Papi, kak Nay sayang kalian ❤

Begitulah setiap harinya kehidupan yang dijalani. Mau makan enak? Bahan makanannya terbatas. Disini juga gak ada pasar. Dan kalau mau makan sayur harus ke kebun dulu. Itu pun jenis sayurnya terbatas, jadi kadang bosen. Gimana gak bosan, makan dengan menu yang itu-itu saja.
Jadi jangan mimpi bisa makan Steak, kfc, burger, spagetti, ice cream, sate, bakso, somay, pecal, mpekmpek, mango thai, makanan kafe, dll. Jangan! Jangan mimpi! Berat! Kamu gak akan bisa mencicipinya 😁😂.

So, dengan keadaan kayak gini, wajar sih rasa kesepian itu melanda hati. Yang biasanya kita dirumah sudah enak, ada keluarga, teman, sahabat yang bisa di ajak jalan, sekarang ya bisanya cuma lihat foto di galeri pas lagi jalan-jalan dulu bareng keluarga/teman.

Kalau dipikir-pikir ya begitu berat ya kehidupan disini yang dijalani apalagi untuk seorang perempuan yang kampung halamannya jauh di Sumatera Utara sana. Dan ketika masih ada orang yang tidak menghargai kita, rasanya sedih gimana gitu. Apalagi ada orang yang ngak menganggap kita ada. Padahal kita berusaha untuk tetap ada buat dia. Walaupun kita gak memperlihatkannya secara langsung.
Tapi btw, ngak mengapa sih, ALLAH kan tahu apa isi hati kita. Dan ALLAH maha mengetahui semuanya. Dan ketika semuanya berakhir padahal belum memulai dari awal lagi, saya hanya bisa SABAR. Iya, saya Sabar kok 😊😇

Loh, kok saya jadi curhat gini ya? Hahaha maafkan suara hati seorang perempuan yang sedang di pedalaman dan terabaikan ini 😂😊. Oke, bye! 😎

Semoga gak bosen baca cerita/kisahku selanjutnya yaaa 🤗🙏💋

Terimakasih Banyak Papua 🤗

Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Finally i'm done! 2 tahun lamanya saya mengabdi di tanah timur Indonesia ini. Gak keb...