Sebelum ikut Nusantara Sehat, kita semua sudah tahu bakal ditempatkan di DTPK, daerah yang terpencil, perbatasan dan kepulauan selama 2 tahun lamanya. Yang tujuannya itu agar SDM dapat merata, tak hanya di kota tapi juga di desa-desa. Selain itu untuk memajukan pelayanan kesehatan di daerah DTPK itu sendiri. Karena setiap kita memiliki hak untuk sehat.
Kami tim NS yang ditempatkan di Papua Barat ada 7 kelompok tim yang akan disebarkan di 7 puskesmas (puskesmas wejim, warwanai, folley, miyah, kwoor, saifi dan seremuk) tepatnya di Kabupaten Raja Ampat, Tambrau dan Sorong Selatan. Selama 19 bulan penempatan, saya baru pernah berkunjung ke puskesmas miyah dan folley. Puskesmas yang letaknya di Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah kepulauan, sedangkan yang letaknya di Kabupaten Tambrau dan Sorong Selatan itu merupakan daerah pegunungan ataupun hutan.
Maret 2018 kemaren saya berkunjung ke Puskesmas Miyah yang letaknya di Kabupaten Tambrau. Katanya disana udaranya sejuk, ada pegunungan petik bintang, ada sungai dan air terjun anenderat namanya. Selain itu ada juga Padang Savanna yang indah banget yang letaknya di Kebar. Kalo zaman sekarang katanya Padang Savanna itu merupakan Bukit Teletubies versi Papua Barat yang sekitar 1 jam perjalanan dari Puskesmas Miyah menuju Kebar menggunakan mobil. Lumayan kan untuk refreshing hati dan pikiran 😂😅
Untuk menuju Puskesmas Miyah yang dilalui dari Kota Sorong menghabiskan waktu 12 jam perjalanan menggunakan mobil. Kebetulan kemaren itu teman-teman tim miyah lagi pada di Kota Sorong, dan mereka mau pulang ke puskesmas, saya sekalian ikut bareng mereka ke puskesmas biar ngak nyasar kalo kesananya 😂 karena memang uda ada niatan sebelumnya pengen berkunjung kesana.
Perjalanan yang cukup dan sangat melelahkan menurut saya ya, karena saya itu mabok perjalanan darat. Suka pusing dan mual gak jelas. Kalo di suruh milih, saya lebih memilih perjalanan laut, mau itu pakai kapal laut atau perahu karena lebih asik aja gitu lihat lautan lepas nan biru tapi ya memang resikonya kulitnya jadi hitam 😅
Sesampainya di puskesmas miyah, saya langsung speechless.
Sungguh!
Kami sampai disana sekitar jam 20.00 WIT yang perjalanannya bener-bener melewati hutan, naik turun gunung, samping kiri kanan jurang, jalan yang hanya dilalui satu arah untuk kenderaan beroda empat, yaa horor sih menurut saya. Apalagi yang bawa mobil juga ya sesama kita aja, gak ada supir khusus. Kebetulan kali itu yang bawa mobil dokter Tiopan, yang sepengakuannya kalau dia juga jarang bawa mobil apalagi dengan kondisi jalanan yang sulit seperti ini. Yaaaah, begitulah hidup disini. Harus bisa survive! Lama kelamaan semakin mahir bawanya. Dan mau gak mau ya harus mau. Sulit dan sangat sulit yaa harus dijalani. Begitulah kira-kira pembaca 😊
Anak NS yang ditempatkan di Puskesmas Miyah ada 7 orang dengan masing-masing profesi dan beda daerah. Ada dokter Tiopan yang dari Medan, ada kak Rina yang profesi perawat dari Sibolga, ada Ade Theresia yang profesi bidan dari Bengkulu, ada Iqbal yang profesi farmasi dari Palembang, ada mbak Nimah yang profesi SKM dari Jawa Timur, ada Tri yang profesi kesling dari Jawa Tengah, ada kak Yohana yang profesi gizi dari NTT. Yaaa, dari beberapa daerah yang disatukan dalam satu tim yang harus bersama selama 2 tahun.
Oke! setiba di Puskesmas Miyah, yang selama di perjalanan saya ngerasa kok gak sampai-sampai ya? kok jauh banget sih? kok masuk hutan terus ya? mana rumah penduduknya? Berbagai macam pertanyaan muncul terus di benak saya kala itu. Sesampainya disana rasa lelah selama di perjalanan bukannya langsung hilang tapi berubah menjadi rasa takut dan horor. Why? karena letak Puskesmas Miyah tersebut benar-benar berada di tengah hutan. Yang samping kiri kanan dan depan belakang itu adalah hutan. Iya beneran hutan! Jadi itu Puskesmas dikelilingi hutan dan gak ada satupun rumah warga tapi hanya ada rumah dinas untuk tenaga kesehatan yang tidak ada penghuninya. Teman-teman tim NS Miyah tinggal di Puskesmas tersebut, iya di dalam puskesmasnya. Jadi ada beberapa ruangan kosong di dalamnya yang digunakan sebagai tempat untuk tidur dan menyimpan barang-barang.
Kondisi dari Puskesmas tersebut sangatlah buruk, seperti puskesmas yang terabaikan dan tidak bertuan, penerangan tidak ada, air tidak ada sama sekali. Untuk menunjang kelayakan kehidupan teman-teman disana saja sulit. Belum lagi daerah tersebut jauh dari kota. Sama seperti di penempatan saya, untuk bertahan hidup harus menyiapkan bahan makanan (stok bahan makanan) dari kota dulu, dan seperti yang kita ketahui pastinya yang bisa disiapkan hanya bahan makanan yang tidak cepat busuk, basi ataupun rusak. Tapi enaknya disana masih bisa terjangkau bahan makanan dari kebun. Walaupun hanya seadanya sih. Jadi Alhamdulillah, disetiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Dengan keadaan puskesmas yang seperti itu, mau gak mau harus dijalani. Sejauh yang saya lihat, banyak perkembangan yang telah dilakukan oleh Tim Miyah. Mereka berusaha melakukan perubahan di dalam puskesmas yang tadinya pelayanan tidak pernah ada jadinya diaktifin kembali pelayanannya apalagi puskesmas tersebut merupakan puskesmas rawat inap, jadi pasien yang perlu di rawat, mereka rawat di puskesmas tersebut. Kebayang gak sih, itu Puskesmas rawat inap tapi fasilitasnya zonk dengan SDM nya tidak tahu pada kemana. Yang tadinya pelayanan imunisasi tidak berjalan jadi berjalan, begitu juga dengan pusling dan kegiatan kemasyarakat. Jadi saya bisa ngebayangin gimana perasaan temen-temen sewaktu pertama kali menginjakkan kaki disana.
Penerangan yang tidak ada sama sekali mereka usahakan untuk membuat sendiri yang ala kadarnya. Air yang tidak ada, mereka usahakan untuk mengaliri air ke puskesmas dari mata air gitu, selain itu mereka mengandalkan air hujan. Dikarenakan daerah itu merupakan pegunungan, asri dan jauh dari polusi, jadinya air hujannya juga bersih dan bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari, masak misalnya.
Menurut saya yang sebagai pendatang, awalnya akan sulit menerima keadaan disana. Kenapa? Karena mereka tinggal yang bener-bener ditengah hutan, rumah warga jauh, mereka hanya bertujuh di dalam puskesmas dan gak ada pegawai puskesmas lain yang setidaknya care atau prihatin kek sama keadaan disana. Jadi kalaupun ada apa-apa disana, mereka harus siap menyelamatkan diri mereka sendiri. Mau teriak pun gak akan ada yang dengar dan kalaupun ada problem yang mereka temui, mereka atasi sendiri. Mereka kuat! Mereka hebat! Saya salut sama mereka, salut dengan ketegaran mereka. Mereka itu bener-bener orang pilihan yang bisa ditempatkan disana. Orang pilihan Allah yang menurutNya merekalah yang hebat yang bisa ditempatkan disana. Dan gak semua orang bisa kayak mereka, gak semua orang sehebat mereka.
Saya tahu pasti gimana rasanya ditempatkan di daerah terpencil dengan teman-teman setim yang baru dikenal dari berbagai suku dan daerah pula, gak mudah dan gak gampang. Gak semua bisa sependapat, gak semua bisa menerima tapi tetap harus satu tujuan. Tujuan yang dibawa atas nama Nusantara Sehat. Sejauh yang saya lihat, betapa profesionalnya mereka. Sekonflik-konfliknya mereka masih bisa menurunkan ego masing-masing dan tidak diperlihatkan. Bagi temen-temen tim Miyah yang baca blog saya ini, murni apa yang saya rasakan. Saya menulis begini bukan untuk membuat kalian terbang melambung tinggi tapi untuk menyadarkan betapa berharganya keberadaan kita dalam satu tim yang di tempatkan di Papua Barat agar lebih semangat lagi untuk melakukan perubahan, semakin banyak berbuat dengan tulus karena secara pribadi saya juga sedang belajar. Kita sama-sama belajar di tanah Cendrawasih ini. Saya malah banyak belajar juga dari kalian.
Jelas, lingkungan dapat mempengaruhi kita sekian persen. Ketika lingkungan mulai negatif, kita memiliki cara tersendiri untuk menghadapinya tapi tetaplah berdiri kokoh, tegar, melapangkan hati dan menerima segala perbedaan. Kalo dalam bahasa papua katanya "baku baiklah" 😊
Saya menulis seperti ini juga belum tentu saya lebih baik, BUKAN. Bahkan mungkin saya jauh lebih buruk. Tapi ini juga sebagai self reminder saya untuk survive di penempatan saya juga dan saya bagikan untuk temen-temen saya yaitu kalian TIM MIYAH 😘
Terkadang tu ya, dalam diri kita itu keluar sendiri penyemangat, motivasi yang terkadang juga ada saatnya sisi rapuhnya kita keluar. Ketika sisi rapuh muncul, kita berusaha untuk mengubahnya maka muncullah penyemangat dalam diri kita sendiri. Yaa, diri kita sendiri yang berperan penting dalam menyemangati kita walau terkadang butuh juga semangat dari orang lain apalagi kita perempuan yang butuh dimengerti, didengerin dan diperhatiin, eh kok saya malah curhat 😅 hehehe. Bukan kok. Intermezo aja 😂
Kita mungkin tidak satu kelompok, tidak serumah, tidak terlalu banyak yang saya tahu tentang kalian, tapi saya banyak belajar dari kalian selama kita bersama-sama. Ketika kita sama-sama di kota, tetaplah kita menjalin tali silaturrahmi ya, Ade Theresiaku sayang terkuat, Mbak Nimahku terlucu terkoplak terbaik, Kak Rinaku termodis terhitz tercantik, Adek tri-ku terheboh terempong terlucu tergemesh terngakak, Iqbal tercuek terdiam terunik, Abang Tiopan terkeras terpeduli, kak Yohana terdiam. 👬👭👭
One day, saya bakal merindukan kalian setelah berakhirnya 5 purnama ini. Saya bakal merindukan kenangan yang pernah kita ukir bersama, dirumah kontrakan, di tempat makan, di ramayana, di mobil dinas, di waisai, di folley, di misool, di miyah, di air terjun anenderat, di pegunungan petik bintang, di padang savanna, saat mendaki menuju puncak, saat makan di Sasana beach, saat rempong ngambil foto, rempong buat video vlog, saat hebohnya jadi tim nasi, sambel dan sayur, saat heboh mau fitting baju. Ah semuanya lah 😍😘
Sehat-sehat untuk kita semuanya yaa di sisa-sisa masa pengabdian ini. Semoga kedepannya semakin lancar dan berkah kehidupan kita, baik itu rezeki, jodoh dan jalan kehidupan yang akan kita lalui masing-masing nantinya.
❤Naymah
Panjang banget yaaa? Maafkeun 🤗😇 Semoga yang baca gak bosen yaa! 🤗
Tidak ada komentar:
Posting Komentar