Naymah Nasution

Rabu, 16 Mei 2018

Beropini tentang Peristiwa Bom di Gereja

Assalamualaikum

Sedih...
Lemas...
Kecewa...
Kesal...
Merasa tidak aman...
Terdiam...
Shock...
Kebayang-bayang sampai larut malam. Serius 😢

Itulah perasaan yang saya rasakan ketika mendengar/menonton berita bom bunuh diri yang terjadi di Indonesia saat ini. Belum lagi diketahui bahwa pelakunya adalah sekeluarga yang beragama Islam. Iya, sekeluarga! Hingga anak-anaknya yang masih kecil yang tidak tahu apa-apa jadi korban dalam bom bunuh diri ini. Sungguh orang tua yang tega.
Apa yang ada di dalam pikiran orangtuanya?
Astaghfirullahaladzim 😭😭

Kita tahu kalau semua agama tidak ada yang mengajarkan kekerasan dalam bentuk apapun itu.
Saya muslim dan saya menyatakan bahwa Islam itu bukan teroris.
Islam itu bukan orang-orang jahat.
Islam itu bukan orang-orang yang membunuh orang yang tidak bersalah.
Islam itu adalah kedamaian.
Kita bisa buktikan itu dalam Al-Quran yang menjadi pegangan hidup umat muslim.

Jadi jikalau ada umat yang beragama Islam yang melakukan aksi bom bunuh diri, jangan salahkan ajaran agama Islamnya tapi salahkan Individu yang melakukan tindakan tersebut.
Kita kaji seperti apa dia melakukan ibadahnya, apakah sesuai dengan syariat Islam atau tidak?
Lihat komunitasnya ataupun perkumpulannya, apakah melenceng dari ajaran Islam atau tidak?
Karena ini jelas sangat berpengaruh besar.

Apa tujuan satu keluarga ini melakukan aksi bom bunuh diri di 3 gereja sekaligus di hari yang sama?
Apakah untuk mati syahid?
Untuk masuk surga?
Jelas tidak akan.
Apakah dengan membunuh umat yang beragama lain yang tidak bersalah akan disebut mati syahid dan masuk surga?
Tidak.
Islam tidak mengajarkan umatnya membunuh dan tidak diperbolehkan bunuh diri.
Dalam Islam tidak akan masuk surga suatu umatnya yang tega membunuh umat lain yang tidak bersalah.
Apakah sekeluarga ini ingin melakukan gerakan mati syahid seperti di Palestina?
Jelas berbeda.
Jangan di samakan.
Berbeda antara Palestina dan Luar Palestina.
Apakah bedanya?
Mari kita lihat dalam Al-Quran surat Al-Mumtahanah ayat 9 yang menjelaskan bahwa "sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim"

Sudah jelas apa permasalahan yang ada di Palestina hingga saat ini sehingga mereka itu bukan disebut bom bunuh diri karena mereka tidak bunuh diri tapi mati syahid.
Jadi orang Palestina yang meledakkan diri di tengah kerumunan tentara Israel yang ingin menghancurkan orang-orang muslim di Palestina itu disebut mati syahid.
Kenapa mereka disebut mati syahid? Terdapat dalam sohih Muslim ketika Nabi bersama sahabatnya dalam perang uhud terkepung oleh Kafir Quraisy yang menyerang dari Mekkah yang di Pimpin Abu Sufyan yang datang ke Madinah untuk menyerang yang saat itu dalam keadaan perang.
Lalu nabi mengatakan "Siapa diantara kalian (sahabat) yang dapat mengusir segerombolan Kafir Quraisy itu akan mati syahid dan masuk surga bersamaku."
Sedangkan yang terjadi di Indonesia saat ini?
Mari kita lihat dalam Al-Quran surat Al-Mumtahanah ayat 8 yang menjelaskan bahwa "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil."

Nabi Muhammad SAW membedakan antara umat non muslim yang di Mekkah dan di Madinah.
Jelas karena yang di Madinah damai, Nabi hidup berdampingan dengan mereka sedangkan yang di Mekkah itu perang. Kita lihat kapan damai dan kapan perang. Jangan disamaratakan.
Sudah jelas, bukan?
Kita di Indonesia yang dapat hidup berdampingan kenapa harus dibuat perpecahan?
Indonesia itu memang mayoritas agama muslim tapi tidak semua orang Indonesia itu muslim.
Indonesia itu ada beberapa keyakinan di dalamnya.
Indonesia itu Bhinneka Tunggal Ika. Bukan untuk saling menjelekkan, saling menghina, saling adu domba sana sini. Bukan!
Akan jauh lebih baik jikalau masing-masing dari individu itu saling koreksi diri, memperbaiki diri, melakukan kebaikan dalam diri.
Dalam diri saja dulu.
Bukannya setiap umat beragama tujuan akhirnya untuk mendapatkan surga? Bukannya dalam setiap umat beragama di ajarkan bagaimana caranya untuk masuk surga?
Amalkan. Itu saja.

Melalui tulisan ini, saya menyampaikan bahwa dalam setiap tindakan bunuh diri, aksi bom, teror itu bukan merupakan bagian dari agama Islam.
Islam tidak mengajarkan seperti itu dan saya yakin tidak ada agama mana pun yang mengajarkan seperti itu.
Ketika ada orang yang bilang kalau wanita muslim bercadar itu adalah untuk menutupi kejahatannya itu juga salah. Dalam Islam cadar itu untuk melindungi diri dari pandangan orang lain yang tidak muhrim dan untuk memperbaiki diri.

Kita semua bersaudara, bahkan yang tidak di kenal sekalipun dan bahkan dimanapun berada. Disini saya mau mengucapkan turut berduka cita untuk korban yang ada di dalam peristiwa bom tersebut. Semoga keluarga sabar, tabah dan semakin kuat.
Untuk netijen-netijen di sosmed manapun itu jangan menebar kebencian, jangan saling menyalahkan, dan jangan membuat viral yang aneh-aneh tentang korban dalam ledakan bom karena itu akan menyakiti hati para keluarga korban.

Ingat, terorisme itu penyebar ketakutan. Jadi kita tidak boleh takut. Kita harus kuat, karena kalau kita takut mereka pasti merasa berhasil.
Perlu diingat lagi, kita Indonesia.
Bersatu kita teguh. Bercerai kita runtuh.

Mari kita mulai mencintai. Karena kita Indonesia.

Mungkin sekeluarga yang jadi tersangka ini kurang gaul, kurang jauh mainnya, dan bisa jadi telah dihasut oleh beberapa golongan yang salah yang ingin menghancurkan kedamaian di muka bumi ini.
Hati-hatilah dalam memilih lingkungan dan jangan mudah jadi pengikut dalam golongan tertentu.

Wassalamualaikum wr.wb

_Naymah

Jumat, 04 Mei 2018

Especially for Miyah's Squad 😍😘

Sebelum ikut Nusantara Sehat, kita semua sudah tahu bakal ditempatkan di DTPK, daerah yang terpencil, perbatasan dan kepulauan selama 2 tahun lamanya. Yang tujuannya itu agar SDM dapat merata, tak hanya di kota tapi juga di desa-desa. Selain itu untuk memajukan pelayanan kesehatan di daerah DTPK itu sendiri. Karena setiap kita memiliki hak untuk sehat.

Kami tim NS yang ditempatkan di Papua Barat ada 7 kelompok tim yang akan disebarkan di 7 puskesmas (puskesmas wejim, warwanai, folley, miyah, kwoor, saifi dan seremuk) tepatnya di Kabupaten Raja Ampat, Tambrau dan Sorong Selatan. Selama 19 bulan penempatan, saya baru pernah berkunjung ke puskesmas miyah dan folley. Puskesmas yang letaknya di Kabupaten Raja Ampat merupakan daerah kepulauan, sedangkan yang letaknya di Kabupaten Tambrau dan Sorong Selatan itu merupakan daerah pegunungan ataupun hutan.

Maret 2018 kemaren saya berkunjung ke Puskesmas Miyah yang letaknya di Kabupaten Tambrau. Katanya disana udaranya sejuk, ada pegunungan petik bintang, ada sungai dan air terjun anenderat namanya. Selain itu ada juga Padang Savanna yang indah banget yang letaknya di Kebar. Kalo zaman sekarang katanya Padang Savanna itu merupakan Bukit Teletubies versi Papua Barat yang sekitar 1 jam perjalanan dari Puskesmas Miyah menuju Kebar menggunakan mobil. Lumayan kan untuk refreshing hati dan pikiran 😂😅

Untuk menuju Puskesmas Miyah yang dilalui dari Kota Sorong menghabiskan waktu 12 jam perjalanan menggunakan mobil. Kebetulan kemaren itu teman-teman tim miyah lagi pada di Kota Sorong, dan mereka mau pulang ke puskesmas, saya sekalian ikut bareng mereka ke puskesmas biar ngak nyasar kalo kesananya 😂 karena memang uda ada niatan sebelumnya pengen berkunjung kesana.

Perjalanan yang cukup dan sangat melelahkan menurut saya ya, karena saya itu mabok perjalanan darat. Suka pusing dan mual gak jelas. Kalo di suruh milih, saya lebih memilih perjalanan laut, mau itu pakai kapal laut atau perahu karena lebih asik aja gitu lihat lautan lepas nan biru tapi ya memang resikonya kulitnya jadi hitam 😅

Sesampainya di puskesmas miyah, saya langsung speechless.
Sungguh!
Kami sampai disana sekitar jam 20.00 WIT yang perjalanannya bener-bener melewati hutan, naik turun gunung, samping kiri kanan jurang, jalan yang hanya dilalui satu arah untuk kenderaan beroda empat, yaa horor sih menurut saya. Apalagi yang bawa mobil juga ya sesama kita aja, gak ada supir khusus. Kebetulan kali itu yang bawa mobil dokter Tiopan, yang sepengakuannya kalau dia juga jarang bawa mobil apalagi dengan kondisi jalanan yang sulit seperti ini. Yaaaah, begitulah hidup disini. Harus bisa survive! Lama kelamaan semakin mahir bawanya. Dan mau gak mau ya harus mau. Sulit dan sangat sulit yaa harus dijalani. Begitulah kira-kira pembaca 😊

Anak NS yang ditempatkan di Puskesmas Miyah ada 7 orang dengan masing-masing profesi dan beda daerah. Ada dokter Tiopan yang dari Medan, ada kak Rina yang profesi perawat dari Sibolga, ada Ade Theresia yang profesi bidan dari Bengkulu, ada Iqbal yang profesi farmasi dari Palembang, ada mbak Nimah yang profesi SKM dari Jawa Timur, ada Tri yang profesi kesling dari Jawa Tengah, ada kak Yohana yang profesi gizi dari NTT. Yaaa, dari beberapa daerah yang disatukan dalam satu tim yang harus bersama selama 2 tahun.

Oke! setiba di Puskesmas Miyah, yang selama di perjalanan saya ngerasa kok gak sampai-sampai ya? kok jauh banget sih? kok masuk hutan terus ya? mana rumah penduduknya? Berbagai macam pertanyaan muncul terus di benak saya kala itu. Sesampainya disana rasa lelah selama di perjalanan bukannya langsung hilang tapi berubah menjadi rasa takut dan horor. Why? karena letak Puskesmas Miyah tersebut benar-benar berada di tengah hutan. Yang samping kiri kanan dan depan belakang itu adalah hutan. Iya beneran hutan! Jadi itu Puskesmas dikelilingi hutan dan gak ada satupun rumah warga tapi hanya ada rumah dinas untuk tenaga kesehatan yang tidak ada penghuninya. Teman-teman tim NS Miyah tinggal di Puskesmas tersebut, iya di dalam puskesmasnya. Jadi ada beberapa ruangan kosong di dalamnya yang digunakan sebagai tempat untuk tidur dan menyimpan barang-barang.

Kondisi dari Puskesmas tersebut sangatlah buruk, seperti puskesmas yang terabaikan dan tidak bertuan, penerangan tidak ada, air tidak ada sama sekali. Untuk menunjang kelayakan kehidupan teman-teman disana saja sulit. Belum lagi daerah tersebut jauh dari kota. Sama seperti di penempatan saya, untuk bertahan hidup harus menyiapkan bahan makanan (stok bahan makanan) dari kota dulu, dan seperti yang kita ketahui pastinya yang bisa disiapkan hanya bahan makanan yang tidak cepat busuk, basi ataupun rusak. Tapi enaknya disana masih bisa terjangkau bahan makanan dari kebun. Walaupun hanya seadanya sih. Jadi Alhamdulillah, disetiap kesulitan pasti ada kemudahan.

Dengan keadaan puskesmas yang seperti itu, mau gak mau harus dijalani. Sejauh yang saya lihat, banyak perkembangan yang telah dilakukan oleh Tim Miyah. Mereka berusaha melakukan perubahan di dalam puskesmas yang tadinya pelayanan tidak pernah ada jadinya diaktifin kembali pelayanannya apalagi puskesmas tersebut merupakan puskesmas rawat inap, jadi pasien yang perlu di rawat, mereka rawat di puskesmas tersebut. Kebayang gak sih, itu Puskesmas rawat inap tapi fasilitasnya zonk dengan SDM nya tidak tahu pada kemana. Yang tadinya pelayanan imunisasi tidak berjalan jadi berjalan, begitu juga dengan pusling dan kegiatan kemasyarakat. Jadi saya bisa ngebayangin gimana perasaan temen-temen sewaktu pertama kali menginjakkan kaki disana.

Penerangan yang tidak ada sama sekali mereka usahakan untuk membuat sendiri yang ala kadarnya. Air yang tidak ada, mereka usahakan untuk mengaliri air ke puskesmas dari mata air gitu, selain itu mereka mengandalkan air hujan. Dikarenakan daerah itu merupakan pegunungan, asri dan jauh dari polusi, jadinya air hujannya juga bersih dan bisa digunakan untuk keperluan sehari-hari, masak misalnya.

Menurut saya yang sebagai pendatang, awalnya akan sulit menerima keadaan disana. Kenapa? Karena mereka tinggal yang bener-bener ditengah hutan, rumah warga jauh, mereka hanya bertujuh di dalam puskesmas dan gak ada pegawai puskesmas lain yang setidaknya care atau prihatin kek sama keadaan disana. Jadi kalaupun ada apa-apa disana, mereka harus siap menyelamatkan diri mereka sendiri. Mau teriak pun gak akan ada yang dengar dan kalaupun ada problem yang mereka temui, mereka atasi sendiri. Mereka kuat! Mereka hebat! Saya salut sama mereka, salut dengan ketegaran mereka. Mereka itu bener-bener orang pilihan yang bisa ditempatkan disana. Orang pilihan Allah yang menurutNya merekalah yang hebat yang bisa ditempatkan disana. Dan gak semua orang bisa kayak mereka, gak semua orang sehebat mereka.

Saya tahu pasti gimana rasanya ditempatkan di daerah terpencil dengan teman-teman setim yang baru dikenal dari berbagai suku dan daerah pula, gak mudah dan gak gampang. Gak semua bisa sependapat, gak semua bisa menerima tapi tetap harus satu tujuan. Tujuan yang dibawa atas nama Nusantara Sehat. Sejauh yang saya lihat, betapa profesionalnya mereka. Sekonflik-konfliknya mereka masih bisa menurunkan ego masing-masing dan tidak diperlihatkan. Bagi temen-temen tim Miyah yang baca blog saya ini, murni apa yang saya rasakan. Saya menulis begini bukan untuk membuat kalian terbang melambung tinggi tapi untuk menyadarkan betapa berharganya keberadaan kita dalam satu tim yang di tempatkan di Papua Barat agar lebih semangat lagi untuk melakukan perubahan, semakin banyak berbuat dengan tulus karena secara pribadi saya juga sedang belajar. Kita sama-sama belajar di tanah Cendrawasih ini. Saya malah banyak belajar juga dari kalian.

Jelas, lingkungan dapat mempengaruhi kita sekian persen. Ketika lingkungan mulai negatif, kita memiliki cara tersendiri untuk menghadapinya tapi tetaplah berdiri kokoh, tegar, melapangkan hati dan menerima segala perbedaan. Kalo dalam bahasa papua katanya "baku baiklah" 😊
Saya menulis seperti ini juga belum tentu saya lebih baik, BUKAN. Bahkan mungkin saya jauh lebih buruk. Tapi ini juga sebagai self reminder saya untuk survive di penempatan saya juga dan saya bagikan untuk temen-temen saya yaitu kalian TIM MIYAH 😘

Terkadang tu ya, dalam diri kita itu keluar sendiri penyemangat, motivasi yang terkadang juga ada saatnya sisi rapuhnya kita keluar. Ketika sisi rapuh muncul, kita berusaha untuk mengubahnya maka muncullah penyemangat dalam diri kita sendiri. Yaa, diri kita sendiri yang berperan penting dalam menyemangati kita walau terkadang butuh juga semangat dari orang lain apalagi kita perempuan yang butuh dimengerti, didengerin dan diperhatiin, eh kok saya malah curhat 😅 hehehe. Bukan kok. Intermezo aja 😂

Kita mungkin tidak satu kelompok, tidak serumah, tidak terlalu banyak yang saya tahu tentang kalian, tapi saya banyak belajar dari kalian selama kita bersama-sama. Ketika kita sama-sama di kota, tetaplah kita menjalin tali silaturrahmi ya, Ade Theresiaku sayang terkuat, Mbak Nimahku terlucu terkoplak terbaik, Kak Rinaku termodis terhitz tercantik, Adek tri-ku terheboh terempong terlucu tergemesh terngakak, Iqbal tercuek terdiam terunik, Abang Tiopan terkeras terpeduli, kak Yohana terdiam. 👬👭👭

One day, saya bakal merindukan kalian setelah berakhirnya 5 purnama ini. Saya bakal merindukan kenangan yang pernah kita ukir bersama, dirumah kontrakan, di tempat makan, di ramayana, di mobil dinas, di waisai, di folley, di misool, di miyah, di air terjun anenderat, di pegunungan petik bintang, di padang savanna, saat mendaki menuju puncak, saat makan di Sasana beach, saat rempong ngambil foto, rempong buat video vlog, saat hebohnya jadi tim nasi, sambel dan sayur, saat heboh mau fitting baju. Ah semuanya lah 😍😘

Sehat-sehat untuk kita semuanya yaa di sisa-sisa masa pengabdian ini. Semoga kedepannya semakin lancar dan berkah kehidupan kita, baik itu rezeki, jodoh dan jalan kehidupan yang akan kita lalui masing-masing nantinya.
❤Naymah

Panjang banget yaaa? Maafkeun 🤗😇 Semoga yang baca gak bosen yaa! 🤗

Sabtu, 28 April 2018

Beropini tentang Puisi Ibu Sukmawati 😇

Sebagai warga negara Indonesia yang memiliki hak bebas untuk berpendapat, kali ini saya mau ngebahas tentang Puisi Ibu Sukmawati yang lagi viral-viralnya. Mungkin saya telat ngeposting ini kali ya, tapi gak apa-apa la ya. Sebelum itu, mari kita telaah dulu isi dari Puisi beliau.

"IBU INDONESIA"
Aku tak tahu syariat Islam
Yang ku tahu sari konde Ibu Indonesia sangatlah indah
Lebih cantik dari cadar dirimu
Gerai tekukan rambutnya suci
Sesuci kain pembungkus wujudmu
Rasa ciptanya sangatlah beraneka Menyatu dengan kodrat alam sekitar
Jari jemarinya berbau getah hutan
Peluh tersentuh angin laut
Lihatlah Ibu Indonesia
Saat penglihatanmu semakin asing Supaya kau dapat mengingat kecantikan asli dari bangsamu
Jika kau ingin menjadi cantik, sehat, berbudi dan kreatif
Selamat datang di duniaku
Bumi Ibu Indonesia

Aku tak tahu syariat Islam
Yang ku tahu suara kidung Ibu Indonesia sangatlah elok
Lebih merdu dari alunan adzanmu Gemulai gerak tarinya adalah ibadah Semurni irama puja kepada Ilahi
Nafas doanya berpadu cipta
Helai demi helai benang tertenun
Lelehan demi lelehan damar mengalun Canting menggores ayat-ayat alam surgawi
Pandanglah Ibu Indonesia
Saat pandanganmu semakin pudar Supaya kau dapat mengetahui kemolekan sejati dari bangsamu
Sudah sejak dahulu kala
Riwayat bangsa beradab ini
Cinta dan hormat kepada Ibu Indonesia dan kaumnya.
▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪▪

Begitulah isi dari Puisi beliau.
Huuuuuft.
Pertama kali saya lihat videonya itu di youtube, pas nonton dan dengar isi puisi Ibu tersebut, saya langsung googling "Profil Ibu Sukmawati".
Saya coba mencari tahu, beliau menganut agama apa. Walaupun saya tahu beliau memang beragama Islam, barangkali saya yang salah makanya saya mencari tahu kepastiannya lagi. Dan benar, beliau memang menganut agama Islam.
Maaf, bukannya apa-apa. Tujuan saya mencari tahu apa agama beliau karena dalam puisi karangannya tersebut, beliau mengaku...

"Tak tahu syariat Islam?"
Ya kalau misalnya tak tahu syariat Islam ya sudah biar Ibu sendiri saja yang tidak tahu dan setidaknya jangan sampai membuat hati banyak Muslim jadi bersedih terhadap isi puisi karangan Ibu.

"Beliau terusik dengan alunan adzan?"
Di Indonesia menganut beberapa keyakinan ataupun agama. Dan setiap agama memiliki cara tersendiri dalam beribadah. Alunan adzan itu merupakan suara termerdu bagi kaum Muslim dan merupakan panggilan untuk sholat. Dan suara adzan itu dalam Islam memang harus keras, pertanda memanggil kaum muslim yang sedang sibuk berkarir/bekerja untuk bersegera beribadah. Begitulah di Islam, bu! Dan kalau ada agama lain yang dalam ibadahnya mesti dengan cara mereka sendiri, ya itu memang prinsip ataupun cara mereka beribadah. Bebas! Dan Indonesia itu mayoritas Islam, bu! Jika ada yang keberatan dengan suara adzan, bagaimana kalau ada juga yang keberatan dengan agama lain dalam melakukan ibadahnya? Bagaimana perasaan kalian yang beragama lain ketika cara beribadah kalian dipermasalahkan? Nah, begitulah dengan muslim.

"Beliau kagum pada aurat yang tergerai dan merasa resah dengan muslimah?"
Bu, jika memang Ibu kagum dengan aurat ya ngak apa-apa. Tapi jangan sampai melukai hati kami yang berjilbab ini dengan puisi yang Ibu bacakan tersebut. Indonesia itu kan gak semua berjilbab, gak semua bercadar. Ya kalo misalnya ada orang yang berjilbab dan dia orang Indonesia, ya karena memang dia orang Indonesia.

"Beliau mengatakan aurat yang tergerai adalah kecantikan yang asli dari bangsa Indonesia?"
Memangnya standar cantik itu apa bu? Ya kalau ada yang berjilbab, bercadar, berkonde, atau bahkan rambut terurai ya kalo misalnya cantik dari lahir dan orang Indonesia juga ya Indonesia aja bu.

Itulah beberapa pertanyaan saya setelah mendengar isi puisi beliau. Sontak saya langsung merinding.
Bukan! Bukan merinding karena terharu! Tapi merinding ketika tiba-tiba ALLAH murka dan memberikan azab seketika. Bisa apa kita yang hanya sebagai manusia? Dengan lantangnya kita mengatakan seperti itu tanpa sadar kedudukan kita di bumi ini hanya bersifat sementara, tanpa sadar kalau kita ini hanya bagian yang sangat kecil dibanding dari KekuasaanNYA.
ALLAHU AKBAR.

Saya hanya seorang muslim yang bisa dibilang sedih, kecewa, pengen marah pas denger isi puisi beliau, Ibu Sukmawati 😊

Indonesia itu kan memiliki Suku, Budaya, Ras, Agama yang berbeda-beda ya itulah mengapa disebut Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda-beda tetap satu jua. Inilah yang sebenarnya membuat Indonesia itu unik. Sebenarnya kecintaan terhadap bangsa Indonesia itu ya "di hati". Ketika ada yang berkerudung, bercadar, matanya sipit, kulitnya hitam atau putih, wajahnya kebule-bulean atau ke arab-araban, ya kalo orang tersebut merupakan orang Indonesia dan cinta Indonesia ya itu hak nya. Walopun seseorang tersebut tidak tinggal di Indonesia.

Untuk menjadi Indonesia itu bukan dilihat dari sari kondenya atau auratnya yang tergerai, tapi bagaimana seorang Indonesia itu bisa menunjukkannya melalui karyanya, bisa produktif melakukan apapun itu untuk negaranya, misalnya seorang pengusaha yang memiliki minimal sebuah usaha lah, yang di dalamnya bisa mempekerjakan orang lain, itu termasuk salah satu mengurangi angka pengangguran di Indonesia. Seorang guru atau tenaga kesehatan yang sedang mengabdi di pedalaman Indonesia dan masih banyak lagi. Seorang berjilbab pun bisa menunjukkan rasa nasionalisme dan cinta tanah airnya terhadap negara dari tindakan-tindakan nyata. Sebenarnya menjadi Indonesia itu adalah yang menerima segala perbedaan yang ada di Indonesia itu sendiri, ya keBinneka Tunggal Ika nya.

Oh iya, berbicara tentang Hijab/jilbab/cadar. Kita Perempuan dan Muslim pake jilbab itu merupakan suatu perintah dari Allah dalam agama Islam. Bukan kita mengikut-ngikut bangsa Arab. Itu murni dari Agama kita. Dan Islam itu sudah lama ada sebelum Indonesia itu sendiri merdeka. Kita perempuan juga berhak memakai sesuatu yang layak dipandang, sopan, tidak menyalahi norma yang berlaku.
Kita Perempuan, Kita Muslim dan Kita Indonesia.

Banyak sekali berita2 tentang konflik beragama di socmed yang saya sendiri tidak tahu kebenarannya gimana yg tujuan dari berita tersebut juga saya masih kurang tahu. Menurut saya sih, kita sekarang ini sudah di era zaman gadget yang setiap hari menggunakan socmed, punya gadget yang canggih, seharusnya kita sebagai pengguna juga harus canggih, harus smart. Jangan sampai nemu berita/situs gak jelas tentang konflik beragama, jangan langsung ditelan mentah-mentah, jangan langsung menebar kebencian dalam bentuk apapun itu misalnya status atau komentar-komentar yang tidak selayaknya. Seharusnya bisa diselidiki dulu kebenaran, jangan mau terhasut oleh golongan orang-orang yg sebenarnya untuk menghancurkan/memecahbelah negara kita sendiri. Jadilah seseorang yang ketika berbicara/berkomentar itu dapat mengubah pandangan atau pola pikir orang lain lebih baik dan positif. Be smart to use social media yaa, gaes! 🤗

Btw, ini opini saya mengenai puisi Ibu Sukmawati. Kalian yang membaca blog ini dan tidak sependapat, itu hak kalian. Kita berhak bebas mengeluarkan pendapat. Jika ada pendapat lain, bisa di koment di bawah ini ya 👇

Minggu, 04 Februari 2018

Sinyal & Listrik ZONK 😥😌

(Masih bercerita tentang pengalaman hidup di pulau kampung wejim).

Di zaman yang serba canggih ini, serba praktis, pernah gak sih kepikiran gitu dimana kita hidup tanpa ada sinyal internet sedikit pun? Atau sinyal telpon. Gak tau kenapa ya, saya sih ngerasa kayaknya gak mungkin banget gitu ada tempat yang gak ada sinyal sedikitpun. Apalagi di zaman sekarang yang ketika kita butuh atau kepengen sesuatu tinggal "klik tombol".

But, dugaan saya salah. Ternyata masih banyak sisi-sisi daerah di Indonesia ini yang masih jauh dari kata layak sih menurut saya. Bayangkan saja, sinyal dan listrik ngak ada? Hidup seperti apa coba begitu? Katanya MERDEKA sudah 72 tahun. Nah, selama ini apa daerah-daerah yang tertinggal memang tidak ter-deteksi atau ter-akses atau bahkan tidak di jamah lantaran tertinggal? Jadi bagaimana nasib masyarakat di dalamnya? Akses informasi kurang, akses transportasi kurang, bahkan pembangunan daerah dan fasilitas pendidikan juga kurang. Ntah ini salahnya dimana, yang jelas saya gak akan ngebahas kesitu.

Bukannya tidak peduli, tapi rasanya bukan kewenangan saya untuk ngebahas sampai kesitu dan memang malas aja ngebahas tentang politik 😂😂
Yang pada akhirnya berimbas ke tidak layakan kehidupan masyarakat yang ada di dalamnya termasuk saya yang sedang tinggal di daerah tersebut.
Sudah...
Sudah...
Sudah...
Saya mau cerita pengalaman kami yang menghabiskan waktu tanpa ada sinyal dan listrik. Kita tau betul betapa pentingnya "sinyal & listrik" untuk kehidupan. Mungkin untuk sinyal, oke lah ngak ada samasekali. Masih bisa dimaklumin. Tapi gak ada listrik itu wow banget tau gak. Beberapa aktifitas terhambat karenanya.
Jadi masyarakat disini menggunakan genset untuk penerangan. Dan itu pun digunakan di malam hari oleh orang-orang tertentu/kalangan yang punya duit. Kalo gak punya duit ya gak ada penerangan. Dan rata-rata disini masyarakatnya gak ada penerangan.
Itu artinya ekonomi masyarakat disini tergolong rendah.
Belum lagi harga disini tergolong mahal. Kenapa bisa mahal? Bayangkan aja, untuk mengambil barang harus ke kota dulu. Jarak ke kota jauh dan membutuhkan bensin banyak. Alhasil barang yang dijual disini akan lebih mahal harganya ketimbang dibeli di kota.

Awal menginjakkan kaki di tempat ini, terbesit dibenak saya "kenapa masyarakat yang disini mau bertahan di tempat yang sulit begini? Hidup di pulau yang tergolong kecil banget dan terpencil". Seiring berjalannya waktu, pertanyaan yang dibenak saya itu saya jawab sendiri 😁
Siapa lagi yang menempati daerah-daerah pulau di Indonesia ini kalau tidak warga kita sendiri. Harusnya kita bersyukur, masih ada masyarakat kita sendiri yang bertahan dan mencintai daerah tempat tinggalnya meskipun itu jauh dari kata "kelayakan".
Yang mana di zaman sekarang ini banyaknya masyarakat yang berbondong-bondong pindah ke kota yang lahan di kota saja sudah sempit malah tergolong padat penduduk. Bukankah dengan adanya masyarakat yang tinggal di pulau juga merupakan salah satu warga yang menjaga pulau Indonesia itu sendiri?

Semakin kesini saya semakin sadar, sejauh apapun langkah kita berjalan, rumah adalah tempat kembali yang menenangkan dan dirindukan. Begitu pula dengan mereka ini, sudah nyaman dengan kampung kelahiran mereka sendiri walaupun tergolong daerah yang sulit.

Setiap hari rasanya begitu lama waktu berputar. Sehari rasa sebulan. Sebulan rasa setahun. Dan anehnya setiap hari rasanya yang dikerjakan hanya itu-itu saja. Rasanya gak produktif. Bangun, sholat, masak, mandi, kerja, makan, tidur. Begitu-gitu terus setiap hari. Palingan untuk menghilangkan suntuk hanya bisa dengerin musik, lihat galeri foto di hp, main game offline, tidur-tiduran(leyeh-leyeh).

Rasa kesepian itu setiap harinya datang bahkan memuncak. Mau kangen keluarga, jauh! Mau pulang ke kampung? Jauh dan menghabiskan biaya banyak. Belum lagi jadwal dikasi liburnya pasti gak puas sesampainya dikampung dan mikirin mau balik ke Papua lagi rasanya berat! Gak kuat! Mending gak usah pulang! (Kata dilan 😁😂).

Mau kangen pacar? Pacar dari hongkong! Jomblo fii sabilillah ini mahh 😂😂 (padahal masih belum move on).
Ya begitulah rasanya. Mau jalan-jalan keluar, yang dilihat itu-itu saja. Depan, belakang, samping kiri kanan yang ada cuma laut dan ombak. Buat saya sih, alhamdulillah laut itu bonus aja. Saya suka laut, suara ombaknya dan anginnya. Pas duduk-duduk di dermaga sambil menatap laut itu rasanya tenang. Dan biasanya saya sering juga jalan sendirian ke pantai arah ke timur sambil bawa buku dan menulis curhatan apa saja yang saya rasakan saat itu. Lumayan buat hati tenang ❤

Bayangkan saja, untuk 2 tahun ke depannya saya bakal menghabiskan waktu begitu-gitu saja 😥.
Sebenarnya ada satu titik tempat yang bisa digunakan untuk mencari sinyal. Di kampung sebelah namanya Satukurano. Kalau mau kesana hanya bisa jalan kaki. Ya karena disini memang gak ada kenderaan. Jadi untuk pergi ke tempat satu dan yang lainnya ditempuh dengan berjalan kaki. Itu membutuhkan sekitar 30 menit untuk sampai ke kampung tersebut dengan melewati jembatan yang hampir/bakal ROBOH.

Serius, jembatannya horor banget. Salah langkah sedikit ya bisa jatuh ke air rawa. Dan itu jembatan panjang banget tau gak! Foto jembatannya bisa dilihat di instagram saya dan scroll deh tu sampe ke bawah. Uda lama saya posting soalnya.

Memang ya, untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan itu harus melalui banyak rintangan dulu. Ya, seperti mendapatkan sinyal ini. Belum lagi sesampainya di tempat sinyal, kita mesti naik pohon ketapang dulu karena sinyalnya ada di atas pohon ketapang. Dan itu hanya sinyal telpon doaaaaang! Dan perjuangan dapat sinyalnya juga kita mesti menyodorkan hp ke atas dengan posisi headset sudah di pasang dan mulailah goyang2kan tu hp biar nemu sinyal. Nah, pas uda nemu nih, pertahankan posisi tangan dan mulailah menelpon. Geser tangan sedikit, sinyalnya hilang 😂
Iya kalo yang ditelpon langsung angkat, kalo ngak, yaa wassalam. Sudah capek, belum lagi sinyalnya kadang muncul kadang hilang. Hahahaha. Lucu lah pokoknya. Video lagi nyari sinyal juga saya posting di instagram, di scroll aja ke bawah ya 😘 udah lama di posting juga.

Saya juga gak nyangka bakalan merasakan hidup seperti itu. Tapi Alhamdulillah seperti pelajaran hidup aja sih, setidaknya saya bisa belajar banyak dari sini. Saya ngerasa hidup di zaman purbakala dan sekarang saya lagi ngejalaninnya. Beneran ini nyata! Saya lagi gak mimpi 😂😂
Gak nyangka aja. Dan terlebih lagi semakin bersyukur atas hidup yang selama saya lahir hingga sekarang yang di fasilitasi baik oleh kedua orangtua saya. Jadi merasa bersalah dan dosa banget ketika kita pernah mengeluh. Mami, Papi, kak Nay sayang kalian ❤

Begitulah setiap harinya kehidupan yang dijalani. Mau makan enak? Bahan makanannya terbatas. Disini juga gak ada pasar. Dan kalau mau makan sayur harus ke kebun dulu. Itu pun jenis sayurnya terbatas, jadi kadang bosen. Gimana gak bosan, makan dengan menu yang itu-itu saja.
Jadi jangan mimpi bisa makan Steak, kfc, burger, spagetti, ice cream, sate, bakso, somay, pecal, mpekmpek, mango thai, makanan kafe, dll. Jangan! Jangan mimpi! Berat! Kamu gak akan bisa mencicipinya 😁😂.

So, dengan keadaan kayak gini, wajar sih rasa kesepian itu melanda hati. Yang biasanya kita dirumah sudah enak, ada keluarga, teman, sahabat yang bisa di ajak jalan, sekarang ya bisanya cuma lihat foto di galeri pas lagi jalan-jalan dulu bareng keluarga/teman.

Kalau dipikir-pikir ya begitu berat ya kehidupan disini yang dijalani apalagi untuk seorang perempuan yang kampung halamannya jauh di Sumatera Utara sana. Dan ketika masih ada orang yang tidak menghargai kita, rasanya sedih gimana gitu. Apalagi ada orang yang ngak menganggap kita ada. Padahal kita berusaha untuk tetap ada buat dia. Walaupun kita gak memperlihatkannya secara langsung.
Tapi btw, ngak mengapa sih, ALLAH kan tahu apa isi hati kita. Dan ALLAH maha mengetahui semuanya. Dan ketika semuanya berakhir padahal belum memulai dari awal lagi, saya hanya bisa SABAR. Iya, saya Sabar kok 😊😇

Loh, kok saya jadi curhat gini ya? Hahaha maafkan suara hati seorang perempuan yang sedang di pedalaman dan terabaikan ini 😂😊. Oke, bye! 😎

Semoga gak bosen baca cerita/kisahku selanjutnya yaaa 🤗🙏💋

Jumat, 26 Januari 2018

Welcome to PAPUA BARAT 😎

Saya mau infokan sama teman-teman semua kalau tulisan ini sebenarnya sudah lama saya tulis di buku catatan harian. Dan memang salah satu tulisan yang ingin saya posting di blog. But, kondisi yang tidak memungkinkan saat itu (tidak ada jaringan internet di penempatan) maka tulisannya bisa di posting sekarang. Hehehe Fyi, sekarang di penempatan saya (kampung/desa saya bekerja) ini sudah di buat jaringan internet loh. Asli dibangun pake tower gitu. Tapi tower yang kecil gitu, hmm saya mau jelasin towernya juga kayaknya percuma soalnya saya juga kurang paham. Oke! Yang penting sudah ada sinyal internet. Daaaaaan 4G ! 😁😆 Jadi Alhamdulillah, saya bisa gampang akses internet. Oh ya btw, setelah tulisan ini nanti saya bakal nulis tentang keadaan saya disini ketika tidak adanya sinyal sama sekali. Oke, mari kita mulai bercerita... 25 Oktober 2016 pukul 11.00 WIT saya dan teman-teman setim NS tiba di penempatan kami bekerja selama 2 tahun ke depannya. Tepatnya di Puskesmas Wejim Distrik Kepulauan Sembilan, Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Ya, saya tinggal di daerah kepulauan. Lega? Belum. Karena ini adalah awal masa pengabdian dan membutuhkan perjuangan yang lebih. Kami tinggal di rumah Dinas yang berlokasi di Kampung Wejim Timur. Sungguh! Ini pulau kecil banget. Saya aja gak nyangka kalau ini pulau ada penghuninya 😂😅 Kalau di peta kayaknya gak kedeteksi deh ini pulau 😂✌tapi kan sekarang udah ada sinyal, dan sudah di setting sama pihak "pembuat sinyal" jadi di search di google map udah bisa ditemukan 😁 Awal nyampe disini, speechless banget! Semua serba kekurangan. Bahkan gak ada sama sekali. Listrik? Gak ada. Sinyal? Gak ada. Bahan makanan? Ada sedikit dan gak lengkap. Bahan makanan yang ada yaitu ikan yang melimpah ruah dengan berbagai macam jenis. Tapi mesti memancing dan menyelam dulu di lautan. Dan lihat kondisi laut dulu, bersahabat apa tidak. Gak bisa sembarangan juga. Jadi ya kadang ketersediaannya jarang dan gak setiap hari adanya. Bahkan bisa sebulan gak ada ikan. Nah apalagi kita yang pendatang disini? Mau mancing atau menyelam? Siapa yang bisa? Kita gak ada yang bisa sama sekali. Bahkan laki-laki yang satu tim sama saya juga gak bisa. Malah ada yang gak bisa berenang. 😂😂😂 Jadi ya biasanya kami cuma dikasi ikan saja sama masyarakat yang mau ngasi dan itu ada yang gratis ada yang bayar. Tergantung. Sayuran? Hanya ada daun kasbi (daun ubi), jantung pisang. Buah? Ada pisang, nenas, pepaya. Selain itu ada cabe, disini sebutannya rica. Dan kalau mau bahan makanan lainnya ya mesti beli di kota. Wejim ke Kota yang paling dekat itu di Kota Sorong namanya. Nah jarak dari Wejim ke Sorong itu lumayan jauh dan butuh bensin yang banyak karena melewati lautan. Dan akses transportasi juga susah banget. Bayangkan aja kapal yang masuk ke Wejim dari Sorong itu hanya 3 kali dalam sebulan. Nama kapalnya "terubuk". Jadi kalo kita mau ke Sorong ikut Kapal Terubuk membutuhkan waktu 24 jam biar nyampe. Why? Lantaran Kapalnya singgah dulu ke Pulau Lain untuk nyari penumpang yang disana yang mau ikut ke Sorong juga. Pulau Kofiau namanya. Dikarenakan jarak satu pulau ke pulau lain jauh, mendekamlah kita di dalam Kapal selama 24 jam. Kapal ini masih lumayan yah, tergolong Kapal baru juga yang masuk ke Wejim. Fasilitasnya ada tempat tidur seadanya. Ada tv umum. Ada musholla kecil. Tempat duduk dan kamar mandi umum. Selain itu ada kantinnya juga kalau mau jajan. Tapi sebelum Kapal Terubuk ini masuk, dulu masih ikut Kapal Kurisi namanya. Dan itu lebih parah lagi sih menurut saya. Bayangkan aja, fasilitasnya cuma musholla kecil dan kamar mandi umum. Tempat duduk atau tempat tidur ngak ada sama sekali. Jadi kita tidur di lantai kapal dengan beralaskan tikar yang kita bawa sendiri. Bahkan sering rebutan tempat sama penumpang lain juga. Ya namanya juga penumpang ya kan, siapa gitu yang tahan berdiri selama perjalanan jauh. Btw, bersyukur sih dengan adanya Kapal Terubuk, lumayan membantu juga. Dan semoga kapalnya baik-baik aja biar setiap perjalanannya lancar. Aamiin. Nah, selain kapal Terubuk, kita juga bisa ke Kota Sorong dengan menumpang Perahu warga yang memang mau ke Sorong. Namanya Perahu Body. Ya kayak perahu kecil gitu (kayak sampan). Tapi bedanya ini di pasang mesin di belakang perahu biar bisa jalan. Nah, kalau pakai perahu body ini menghabiskan waktu 6-7 jam perjalanan lautan lepas. Resikonya ya, kalau kenapa-napa di tengah laut, ngak ada yang tau karena memang gak ada akses untuk memberi informasi gitu, beda dengan Kapal Terubuk yang memang sudah dilengkapi sistem komunikasi dari Pusatnya dan sudah disediakan "safety" juga buat penumpang kalau misalnya ada kegawatdaruratan. Dan naik perahu body ini juga sangat cepat mengubah warna kulit karena langsung terpapar terik matahari 😁😂 Jadi maklum-maklum aja kalo warna kulit saya berubah 😀 Suka dukanya naik perahu body ini ya, lebih cepat perjalanan di laut aja sih ya. Kalo dukanya sebenarnya lumayan banyak. Tapi saya sebut resiko aja ya ketimbang duka. Agak gimana gitu dengan sebutan "duka". Resikonya lebih capek karena selama perjalanan hanya bisa duduk menyilang (kakinya di silang). Bayangkan gimana pegalnya itu bok#ng. Terpapar matahari langsung ke kulit karna memang perahunya rata-rata gak ada atapnya (tapi ada juga perahu yang ada atapnya). Jadi kalo kita mau otw ke Kota, penampilan nomor sekian deh. Yang penting kulit terlindungi dari terik matahari. Yang paling penting dan wajib adalah selalu berdoa sama Allah agar perjalanannya lancar dan selamat. Nah, sesampainya di Kota, kita bisa makan enak sepuasnya. Hmm Kota Sorong ini lumayan maju. Mall sudah ada. Mall Mega, mall SAGA. Supermarket ada. Tapi disini Supermarket lokal yang ada. Namanya "Supermarket Papua". Jadi kalo Alfama*t atau indomar*t disini belom ada. Mungkin memang dilarang masuk kali ya di Papua Barat. Yang ada masih KFC dan Ramayana. Kalau kafe banyaaaaak! Toko Fashion juga banyaaaak! Kalau soal harga disini, lumayan menguras kantong ya. Harga lumayan mahal. Jadi ya disini tergolong biaya hidup mahal sih kalo untuk kami yang anak rantau.

Sabtu, 16 September 2017

PEMBEKALAN NUSANTARA SEHAT DI PUSDIKKES TNI-AD JAKARTA

Padangsidimpuan – Medan – Jakarta
Sebelum berangkat ke Jakarta untuk pembekalan, saya singgah dulu di Medan sekalian melegalisir STR untuk salah satu persyaratan Nusantara Sehat. Bersyukur banget saya punya temen yang baik hati yang mau antarin saya kemana aja sesuka hati saya. Alhamdulillah. Hatinya malaikat banget. Terimakasih banyak, sahabat! (senyum merekah).
Setelah semua urusan kelar, barang sudah siap di packing, semua persyaratan ikut pembekalan udah rampung, saatnya go to Jekardah. Medan ke Jakarta membutuhkan waktu 45 menit penerbangan udara. Setelah lelah seharian, hingga tertidur di pesawat, sampailah ke bandara Soekarno-Hatta dan menunggu jemputan dari om beserta anak-anaknya yang lucu menggemaskan, Melinda-Anggie-Salwa. Ketiga nama yang manis se manis wajah mereka. Hehehehehe. Kita sempat jalan-jalan dulu sebentar sebelum pada akhirnya saya di asingkan di Asrama TNI-AD Kramat Jati. Beberapa jam kemudian, tibalah saatnya pembekalan itu dimulai dengan registrasi terlebih dahulu. Setelah selesai dan berpamitan dengan keluarga, mulailah saya memasuki asrama dan mengikuti semua peraturan yang ada disana. Yup, peraturan tentara TNI-AD yang bisa dibilang ketat dan tidak sembarang peraturan. Apa saja itu ? kita harus bangun lebih awal karena mulai jam 04.00 subuh Waktu Indonesia Barat, kita melakukan senam sehat. Itu berarti sebelum jam 04.00 kita sudah bangun dan bersiap-siap. Pukul 06.00 WIB kita semua sudah berkumpul di ruang makan untuk sarapan pagi. Itu artinya setelah selesai senam, kita bergegas mandi dan membersihkan diri untuk sarapan karena akan diberikan hukuman ketika kita telat. Belum lagi kita mandinya harus antri. Sebelum keluar dari Barak (kamar tidur dalam bentuk bangsal/banyak orang yang dalam kosakata Tentara namanya barak) wajib hukumnya bersihkan tempat tidur dan lemari masing-masing dari kita. Baju dan celana harus disusun rapi sesuai perintah. Wajib hukumnya mengenakan kemeja putih dan celana hitam selama pembekalan 40 hari kecuali kegiatan olahraga. Alhamdulillah enaknya kita difasilitasi baju olahraga dan baju tentara gitu (kalo gak salah namanya baju PDL dan baju Loreng-loreng). Sumpe daaaah, bajunya kegedean dan kalo dipake yaaa TENGGELAM jadinya. Belum lagi pake sepatu PDL yang segede kaki gajah, trus harus pake kaos kaki yang tebel banget, sumpe tebel banget. Kata komandan sih biar kaki kita gak lecet pas pake sepatu PDL nya. Terus pake kopel sejenis ikat pinggang yang bisa gitu. Yaah, kalo pake baju PDL mahh udah berasa kayak satpam. Eh iya, hampir lupa! Kita disini dilatih diterjang ditempa digembleng sama Komandan-komandan. Ya, pria-pria yang badannya tegap pandangannya lurus dan jalannya yang kelihatan macho gitu sebutannya komandan. So, kita harus menyesuaikan dimana kita berada. Dan tentunya ketika kita di haruskan untuk pembekalan di Pusdikkes TNI-AD, kita harus mengikuti semua kebiasaan, aturan, hukum dan pasal-pasal tentang dunia ke-TENTARAAN. Damn it!
Hampir lupa lagi, kita juga wajib mengenakan topi rimba. UNIK! Topinya ya memang unik. Sampe-sampe ketika kita pake, muka kita juga jadi UNIK! Yaaa Uniiiiikk! Gimana ya cara jelasinnya? Ya, pokoknya gitu deh.
Kaum lelaki diharuskan kepalanya botak. Ketika rambutnya numbuh, ya di botakin lagi! Hahaha.
Kebiasaan dan peraturan yang wajib kita laksanakan adalah :
Eng ing eng……….
Wajib hukumnya melakukan barisan pasukan ketika perpindahan tempat, berapapun jumlahnya kecuali sendirian. Tapi ketika berjalan sendirian dan bertemu dengan barisan pasukan, usahakan mengikuti barisan pasukan tersebut.
Ketika melakukan perpindahan tempat dan bertemu dengan anggota pasukan lain ataupun komandan-komandan lainnya wajib hukumnya ketua dalam barisan pasukan menghormat dan mengucapkan “Kemenkes”.
Ketika melakukan perpindahan tempat, barisan pasukan wajib menyanyikan lagu mars Nusantara Sehat, lagu Semangat Perjuangan atau pun yel-yel yang di ajarkan para komandan-komandan. Terserah sih mau nyayiin lagu apa yang telah mereka ajarkan tapi yang terpenting harus dan kudu’ bernyanyi bersama dimanapun dan kapanpun.
Tidak ada yang namanya HP. Yup, HP disita. No Hp, No Sosmed, No Dunia Internet.
Mengikuti setiap materi baik itu di kelas ataupun di Anggatra (istilahnya ruang aula) dengan tertib dan gak boleh ngantuk karena kalo ketahuan ngantuk ya bakalan dihukum push-up. Bayangin aja coba gimana kita gak terkantuk-kantuk kalo setiap harinya kita tidurnya Cuma 3 jam dengan kegiatan yang full banget. Bangun pagi jam 3, senam sehat jam 4, mandi dan beberes jam 04.30, makan pagi jam 05.30, persiapan apel jam 06.00 dengan melakukan baris berbaris mengelilingi lapangan Pusdikkes yang lumayan melelahkan dan meremukkan badan lah di pagi hari yang seharusnya lebih cocok santai sambil minum teh gitu, apel pagi jam 07.00 dan setelah itu masuk ke kelas masing-masing tiap pleton untuk menerima materi dari pihak Kemenkes. Bentuk dan gaya kita di kelas macem-macemlah, ada yang nahan kantuk, ada yang uda tertidur pulas dengan berbagai macem gaya, ada yang pura-pura baca buku tapi matanya tertutup (adaaaaaa), ada yang baper-baperan, ada yang pedekate, ada yang surat-suratan, ya banyak lah. Sampe-sampe ada yang jadian tapi udah punya pacar dikampung masing-masing, hahaha. Yah, mungkin untuk menghibur diri di tempat yang jauh dari keluarga dan orang-orang terdekat kali ya. Namanya juga manusia, sifat kesepian dan ingin diperhatikan itu pasti adaaaa. Tapi tetap, tergantung pribadi masing-masing orang aja. Ada yang mau, ada yang gak mau.
Kita tim NS diharuskan tetap semangat dan tangguh, yaa seperti lirik lagu dan yel-yel yang diajarkan komandan ke kita. Alhamdulillah seru sih. Gak nyangka aja saya bisa ikut serta dalam bagian NS ini.
Kita diajarkan jiwa KORSA yang artinya setiap apapun yang kita lakukan atau kerjakan ya harus sama-sama dan saling bantu. Nusantara Sehat apa kabarmu? Luar Biasa! Aiha Aiha Luar Biasa! Korsa.
Tiap hari ada namanya piket malam barak! Sumpah yang ini ngak banget deh, masalahnya kita udah capek seharian ngejalani kegiatan tapi malah dikasi piket malam barak lagi dan kudu’ melakukan pelaporan ke Kolat Komandan (kolat = tempat istirahat/basecamp para komandan) tiap tengah malam setiap harinya. Yah waktu istirahat tersita aja kalau dapat jadwal piket malam barak.
Pokoknya masih banyak peraturan-peraturan yang mesti kita laksanakan.
Ketika sampai di Pusdikkes dan dibagikan kelompok untuk kita peserta Nusantara Sehat, saya masuk dalam Kelompok C atau disebut Kompi C dan tepatnya dalam urutan kelompok C2 atau disebut Pleton C2. Bingung yaa? Haha saya juga bingung awalnya. Tapi ya, dijalani saja toh ? seru juga!
Nih aku jelasin sedikit ya, jadi kita dibagi dalam 3 kelompok yang disebut Kompi A, Kompi B dan Kompi C. Nah, setiap kompi ada urutannya yang disebut Pleton yaitu Pleton A1, A2, A3. Pleton B1, B2, B3. Pleton C1, C2, C3. Nah, saya termasuk dalam Kompi C, Pleton C2. Gimana? Udah agak paham belom? Hah? Belom juga ? yaudah gpp, kan gak dipaksa. Gak masuk dalam ujian sekolah juga. Heheheh canda!
Dan komandan yang bertugas sebagai Pembina kita di Kompi C disebut Danki. Nah danki kita namanya Komandan Anam. Gilaaaak, ganteng dan manis cyiiiiin! Tapi udah punya anak. Wkwk. Banyak banget yang kesemsem sama komandan Anam bahkan ada yang bersikap berlebihan tapi ya itu sih tergantung pribadi masing-masing aja yekan? Mungkin itu salah satunya untuk menghibur diri aja selama pembekalan yang tanpa ada Hp dan kehidupan sosmed manapun.
Ehem, masih panjang nih ceritanya. Masih kuat baca sampai selesai kan? Bagus! Anak baik pinter soleh/a rajin penabung dan tidak sombong. Hehehe (
Komandan yang bertugas sebagai Pembina di setiap pleton disebut Danton. Dan danton kita adalah komandan Budi. Komandan yang manis dan cool. Ngak banyak ngomong dan gak banyak tingkah tapi perhatian ke kita semua yang ada di Pleton C2. Banyak banget yang kesemsem juga sama komandan Budi. Tapi tetap yaaa, sudah punya anak dan istrinya Cuantiiiiiikkk banget. Hehehe. Komandan Budi juga ternyata alim banget dan suka ngasi wejangan gitu ke massing-masing dari kita dan ke saya jugaaa. Yup, saya pernah dinasehati dan lebih tepatnya diceramahi tentang “JODOH”. Mau tau gak apa kata komandan Budi ? oh gak mau tau ya? Yaudah tetap saya kasih tau aja deh. Kan ini blog saya. Hehehehe Stop Intermezo nya.
Komandan Budi malah nasehatin saya agar tetap jadi wanita yang baik agar menemukan Lelaki yang baik. Lebih tepatnya sih katanya ditemukan sama lelaki yang baik. Komandan bilang kalau perempuan itu Anugerah untuk kaum lelaki yang diciptakan sama Allah jadi sebaik-baiknya Anugerah itu yaaa harus jadi Wanita yang baik. Pokoknya banyak banget deh ceramah dari komandan Budi yang Alhamdulillah bisa membuka hati kita untuk tetap berbuat baik. Dengan hati yang khusuk, pikiran yang tenang dan badan yang lelah kita ngelajani pembekalan dengan ikhlas dan tulus, haha (apasih...) tapi kita tetap masih deg-deg an bakalan ditempatkan dimana nantinya. Tapi yang pasti sih, penempatan di DTPK (Daerah terpencil perbatasan kepulauan) dan DBK (daerah bermasalah kesehatan) yang sudah pastinya di Puskesmas yang SDM dan Pelayanan Kesehatan yang sangat-sangat-sangat kurang dan pastinya lagi akses apapun akan sulit. Misalnya : akses transportasi dan akses internet/telpon. Bahkan bisa jadi tidak ada akses apapun. Tapi..... kayaknya impossible juga sih di zaman yang modren ini dengan segala akses yang canggih gak akan mungkin sesulit yang dipikirkan. Daaaaaaaaaan, semoga saya ditempatkan di daerah yang tidak terpencil2 banget lah. Yaaa, misalnya ada jaringan telpon/internet, akses transportasi lancar, penduduknya yang sudah lumayan maju dan kalo bisa ada pusat perbelanjaan gitu kayak Plaza, mall, supermarket. Hahahhaahah (ngimpi kali gue! Gak usah ikut NS kalo pengennya itu) hhmm tapi amin kan aja yaaa. Aamiin (

Yaaaaaa Rabbi...........
Shock ketika dapat kabar dari salah satu teman C2 yang bilang kalau Kompi C itu nantinya bakalan di tempatkan di daerah Timur Indonesia. What ? speechlees gue! Masa sih ? ya ampuuuuun. Tapi masih gosip yang kebenarannya sekitar 80% gitu. Saya langsung berdoa agar saya bisa dapat penempatan di Sumatera aja deh ya Allah, pliiiiiisssss ( Semoga nanti pas pengumuman penempatan nama saya keselip di daerah Sumatera aja dong. Batin saya belum kuat kalo bakalan ditendang ke daerah Timur Indonesia.
Tiba waktunya pengumuman penempatan itu dimulai dan setelah menunggu dan menunggu nama saya dipanggil ternyata saya dapat penempatan di Papua Barat. Muka saya pucat. Lemes. Terdiam. Kayak orang bodoh. Pokoknya seketika saya serasa jadi patung yang bernyawa. Saya gak peduli bakalan satu kelompok dengan siapa, tapi kenapa mesti di Papua????? Oke. Saya berusaha tenang. Berusaha bersikap menerima, ikhlas dan kudu’ sabar. Lumayan menghibur hati ketika tau kalau saya ditempatkan di Kabupaten Raja Ampat Papua Barat yang konon kata orang-orang itu adalah surganya Indonesia. Daerah destinasi alam yang luar biasa menakjubkan. Alhamdulillah setidaknya gak sedih2 banget la ya. Lagian kapan lagi coba saya menginjakkan kaki di Timur Indonesia? Di Raja Ampat pulak. Yaa sambil menyelam minum air. Eh, bukan. Itu salah. Ntar yang ada perut saya kembung dan wassalam. Tapi sambil menyelam ambil ikan. Ya ngak?? Lumayan buat di bakar setelah selesai nyelam, kan kenyang jadinya- (kedip-kedip mata).
Nah, Perjuangan baru mau di mulai. Eh, belom. Kan masih jalani pembekalan 40 hari. Hahahaha. Semenjak saat itu saya bertekad dalam hati kalau perjalanan ini akan saya ukir dalam hati, simpen dalam memori ingatan dan arsipkan dalam buku atau ya semacam blog ini juga bisa. Anggap aja kita sedang berpetualangan di daerah yang tidak kita ketahui samasekali dan harus survive. Bekerja. Mengubah pola perilaku masyarakat terpencil. Melakukan pelayanan kesehatan. Sekaligus liburan juga. Aaahhh mungkin menyenangkan! Mungkin juga tidak! Yang pasti diajalani aja dan semangat berpetualangaaaaan!!!!!! (merdeka!)

ASAL USUL MULANYA IKUT NUSANTARA SEHAT

Hallo, dari sekian lamanya saya gak pernah nulis lagi di blog ini padahal banyak, banyak dan banyak kisah yang ingin saya ceritain. Huuft (titik dua buka kurung). Berawal dari info teman kampus yang ngasih tau ada penerimaan Nusantara Sehat dari Kementerian Kesehatan yang membutuhkan 9 tenaga kesehatan (dokter umum, dokter gigi, perawat, bidan, ahli gizi, kesling, farmasi, analis kesehatan, kesehatan masyarakat) yang siap ditempatkan di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan (DTPK) dan daerah bermasalah kesehatan (DBK). Saat itu saya udah kerja sih (pendamping PKH Kementerian Sosial), udah enak juga kerjaannya tapi masalahnya saya kerja tidak sesuai jurusan yang saya miliki. Dan itu yang menjadi faktor utamanya saya masih mencari kerja sampingan yang sesuai jurusan yang saya miliki. Terkadang saya merasa malu ketika bertemu dengan teman seprofesi yang kerjanya di Rumah Sakit, Puskesmas atau bahkan yang uda jadi dosen. Duh, keinginan saya banget tuh bisa ngajar adik-adik yang baru memulai dunia perkuliahan. Tapi ya karena saya masih lulusan D4 kebidanan (S.Tr.Keb) yang pada saat ini tidak bisa diterima lagi untuk jadi dosen di Kampus manapun kecuali kalo loe punya kenalan, sodara, link, bahkan duit yang banyak buat nyogok masuk kerja yaaaa pasti keterima-keterima aja sih. Wkwkwkw dan satu lagi harus SAP kata temen saya ya. Eh apa itu ? SAP = Sesuai Amal Perbuatan. (ngakak).
Setelah membaca profil Nusantara Sehat di situs web resminya, saya GALAU !!! Fixed GALAU !!! dimana usia saya yang seperempat abad yang seharusnya dan lebih tepatnya nunggu jodoh malah harus siap ketika nantinya saya ditempatkan di daerah terpencil nun jauh dari kota dimana saya dilahirkan hikss (padahal belum tentu juga saya lolos seleksi yekan ? pede amat saya mahh haha), setelah menimbang-nimbang, bergulat dengan guling di kamar sendirian dengan posisi nungging, merayap, geser kiri kanan, jongkok dan beradu argument di depan cermin, akhirnyaaaaaaaaaaaaa saya memutuskan untuk mendaftar (tepuk tangan) dan menyiapkan semua scan file untuk di upload. Sebagai manusia normal yang bercita-cita tinggi (eeaakk) saya pasti berharap lulus seleksi berkas, berlanjut mengikuti test, dipanggil umtuk pembekalan di Pusdikkes TNI-AD daaaaaaaaaaan ikut menjadi bagian tim NUSANTARA SEHAT ! (Sumpah ini saya ketinggian banget ngimpinya yaaaa ( ).
Selang beberapa hari keluarlah pengumuman Nusantara Sehat yang sakral itu, ternyata saya lulus berkas, lulus ujian, dan dipanggil ke Jakarta untuk ikut pembekalan di Pusdikkes TNI-AD kramat Jati selama 40 hari. Ajiiiiiiiiiibbb!!!!!! Rezeki gak kemana yaa. Allah baik banget sama saya. Alhamdulillah yaa Rabb. Terimakasih atas rezeki yang tlah diberikan. Aamiin. Packing, packing, packing !!! Hello Monas !!! I’m coming Jakartaaaaaaaaaaaaa!!! (
Waktunya pamitan sama teman kerja di Kemensos. Mungkin memang waktu kita gak terlalu lama tapi selama 1 tahun terakhir udah cukup mengukir kebersamaan kita di hati ini (huhu () Sedih sih tapi jalan hidup kita berbeda cuma tujuan kita tetap sama yaitu sama-sama berusaha merubah pola pikir masyarakat yang kehidupannya jauh dari kata “kelayakan” padahal kita semua sama-sama makhluk ciptaan Allah dan sama-sama orang Indonesia dan mempunyai hak yang sama juga (MERDEKA!!!). Hanya saja nasib dan takdir yang berbeda-beda. Lagi pula untuk bermanfaat bagi orang yang membutuhkan kita itu adalah amal ibadah toh? Oke. Selamat tinggal PKH Padangsidimpuan. Selamat tinggal Kemensos. Selamat tinggal sekawan sosial yang kece badai, lebih kece lagi kalau ada saya (eh :D ). Selamat berjuang buat kita semua dan sama-sama sukses untuk kita yaaaaa. I’ll miss you, ummaacchhhh!!! Byeee!!!

Terimakasih Banyak Papua 🤗

Assalamu'alaykum warohmatullahi wabarokatuh. Finally i'm done! 2 tahun lamanya saya mengabdi di tanah timur Indonesia ini. Gak keb...